Rabu, 30 November 2016

pemimpi bermimpi menjadi pemimpin

Di pagi yang dingin menusuk tulang dan embun pagi masih tampak bersinar di antara dedaunan. Aku terbangun dari tidurku, yang semalam telah kurajut sebuah mimpi indah. Mimpi-mimpi yang semalam telah kurangkai sedemikian rupa hingga mengalahkan mimpi yang diceritakan dalam novel ”Sang Pemimpi” yang ditulis oleh sastrawan terkenal Andrea Hirata.
Di mimpiku, Aku bertemu para petinggi Negara, presiden, raja-raja bahkan ratu Elisabeth. “akan kuceritakan semua mimpi-mimpiku ke Ibu” kataku dalam diam.
“Anakku bangun!!!, sudah pagi” suara indah yang mengalahkan alunan nyanyian seriosa yang memanggilku dari balik pintu, yaa itu Ibuku. Aku hanya tinggal bersama Ibuku. Ayahku telah meninggal 11 tahun silam. “iya Ibu tunggu”. Jawabku sambil mengusap mata. Ayahku meninggal sejak Aku berumur 7 bulan. dan sekarang, umurku menginjak 12 tahun. Kata Ibu, ayahku meninggal karena penyakit komplikasi, mungkin karena biaya pengobatan Ayahku yang sangat mahal dan takdir Ibuku menjadi janda 11 tahun.
Hariku dimulai, Aku adalah anak singkong hanya tinggal di gubuk tua. Itu panggilanku “anak singkong” orang-orang memanggilku, tetapi menurut Aku itu adalah title sarjanaku, “gubuk tua” adalah panggilan untuk kerajaanku. Kerajaan yang hampir seluruh halamannya dikelilingi sampah dari berbagai macam merk, mulai dari botol minuman sampai perabot rumah tangga. itu anggapan mereka tetapi Aku tidak menganggapnya sampah melainkan hartaku.
Sebagian masyarakat konglomerat berlomba-lomba membangun pagar besi, pagar anti maling, brankas sampai anjing penjaga, alasannya hanya satu, menjaga hartanya. Beda dengan keluargaku yang hanya membiarkan semua hartanya di luar rumah tanpa pagar besi dan tanpa anjing penjaga.
Setiap pagi Aku bersama Ibu berkeliling ke rumah-rumah warga tepatnya di tempat sampah warga untuk mengais sisa-sisa rejeki.
“mungkin sudah banyak Nak, ayo kita pulang” ajak Ibu sambil mengusap keringat di mukanya
“iya bu, aku juga sudah lelah” jawabku.
Sesekali di perjalanan pulang orang-orang menyapaku dengan panggilan anak singkong, aku hanya menghiraukannya, Aku tetap berjalan sambil menggendong sisa harta di pundakku.
Senja digantikan malam dengan penuh kegelapan, terdengar kicauan binatang malam dengan riang gembira bersahut-sahutan, Jangkrik di balik batu, katak di parit dekat kerajaanku, burung hantu di pohon beringin dengan tatapan tajam penuh konsentrasi mencari mangsa di tengah kegelapan malam. Dengan gelap gulita kuceritakan semua mimpi-mimpi yang Aku rajut semalam kepada Ibu.
“Ibu…”, sapaku kepada orang yang telah melahirkanku. “Iya Nak, kenapa?” jawabnya dengan penuh ekspresi Tanya di mukanya. “ibu, semalam Aku memimpikan diriku jadi seorang pemimpin, aku bertemu para petinggi Negara, presiden-presiden dari berbagai Negara, raja-raja, bahkan Ratu Elisabeth. Di mimpiku sang Ratu berkata padaku “don’t afraid to dream son” ” jelasku sambil tersenyum.
“Maaf Anakku Ibu membawamu ke kehidupan susah ini”.
“tidak ibu, ini adalah hidupku yang sebenarnya. Ibu sebenarnya kita itu adalah pahlawan, tanpa kita pasti Indonesia dipenuhi sampah. Kita adalah pahlawan Bu, pahlawan untuk semua rakyat, kita menggunakan kembali barang-barang yang sudah tidak dipakai” jelasku kepada Ibu.
Senyum manis yang menghilangkan raut muka lelah dan letih terpancar dari muka Ibu yang sesekali Ibu mengusap-usap kepalaku.
“oh iya Nak, apa arti dari yang dikatakan Ratu Elisabeth padamu?” Tanya Ibu.
“katanya don’t afraid to dream artinya jangan takut bermimpi. Sebenarnya Bu, masih ada yang dikatakan Ratu padaku, katanya “don’t afraid to dream son, sky as high as be dream if you felt. you will fall between stars”. Tetapi Aku tidak tahu apa artinya.
Malam semakin larut binatang malam masih sibuk bersahut-sahutan, sesekali masih terdengar suara kicauan burung Hantu yang bertengker di ranting pohon beringin mencari mangsa. Mungkin saja belum bisa menemukan binatang kecil buruannya.
“Nak sudah larut malam, besok kita ke kampung seberang mencari rejeki” kata Ibu
“iya Bu.., oh iya Bu, Aku berjanji jika aku menjadi presiden nantinya, Pemulung seperti kita akan mendapat gaji bulanan, itu janjiku Bu, janji anak pemulung”, jelasku.
“sudahlah Nak, ini sudah larut malam besok kita mulung lagi” Kata Ibu sambil meniup lilin.
“jangan takut bermimpi, bermimpilah setinggi langit, jika kamu terjatuh. kamu akan jatuh di antara bintang-bintang”

masa kecilku

Hi, namaku Eli kurniawati teman-temanku biasa memanggilku Eli. Sekarang usiaku sudah 17 tahun, apa kalian pernah berfikir bahwa masa kecil adalah masa yang paling indah dan menyenangkan? Mungkin tidak semua orang berfikir bahwa masa kecilnya adalah masa yang paling indah, ada sebagian orang yang lebih menyukai masa-masa kedewasaannya dibandingkan masa kecilnya, tapi tidak denganku, aku justru lebih menyukai masa kecilku karena masa kecilku adalah masa dimana aku bisa melakukan banyak hal dibandingkan saat sekarang yang sudah lebih banyak kegiatan di sekolah dan di rumah, jadi apa yang kulakukan jadi sedikit terbatas tidak seperti saat kecil.
Nah, ada hal yang selalu kuingat, dulu aku itu memang sedikit nakal dan lebih aktif daripada aku yang sekarang, dulu itu aku sering sekali tidak meminta izin saat pergi bermain bersama teman, karena saat itu aku sering bersama sepupuku yaitu herlik. Ia adalah teman masa kecilku yang selalu bersama-sama itu sebabnya ibuku selalu tidak khawatir saat aku pergi bermain tanpa izin karena aku bersama dengan herlik. Herlik adalah seorang anak yang baik, pintar dan tentunya cantik karena rumah kami yang berdekatan kami sering pergi bermain bersama. Saat kecil mungkin karena terlalu dibiarkan bermain sesuka hati oleh ibuku, aku dan herlik sering sekali bermain air karena rumah kami yang dekat sungai dan apalagi jika hujan turun deras membuat halaman rumah menjadi banjir aku dan herlik benar-benar menyukai itu, kami sering bermain air di sungai bersama-sama, Saat itu kami juga mempunyai 2 teman tetangga kami yaitu mega dan mayang.
Saat itu ada kejadian yang menimpaku saat kecil, aku tidak ingat tanggal dan tahun berapa kejadiannya Tetapi saat itu kira kira usiaku antara 8-9 tahunan. Aku dan teman-teman saat itu bermain air di sungai sangat lama kebetulan karena saat itu habis hujan, kami begitu bersemangat menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain air. Saat itu kebiasaanku yang tidak meminta izin pada ibuku atau kakakku saat akan bermain air, setelah kami selesai bermain air entah kenapa di jalan menuju pulang ke rumah sekujur tubuhku terasa gatal-gatal. Awalnya aku berfikir setelah mandi mungkin rasa gatal-gatal di tubuhku akan hilang, karena teman temanku pun berfikir begitu.
Setelah sampai di rumah aku langsung bergegas mandi karena tidak ada ibu di rumah, saat itu ibu sedang pergi ke sawah dan kakakku sedang tertidur, entah kenapa sampai malam tiba rasa gatal di tubuhku tidak hilang juga aku terus menggaruk-garuk seluruh tubuhku dan saat itu aku tidak berani untuk bicara pada ibuku, saat itu aku hanya dapat menghilangkan rasa gatalnya untuk sementara dengan mengoleskan minyak ke bagian tubuhku yang gatal itu dan aku mencoba untuk tidur meskipun sulit karena rasa gatal yang berlebihan membuatku tidak tenang sepanjang malam.
Keesokan harinya tubuhku mulai bintik-bintik gatal, kemudian ibuku bertanya “Eli, kenapa kaki dan tanganmu terus kau garuk (dengan menggunakan bahasa jawa)” . Lalu aku pun terpaksa menjawab dengan jujur karena aku tidak tahan dengan gatal-gatalku, “Aku habis bermain air di sungai dan menjadi gatal-gatal”. Saat itu aku pun dimarahi oleh ibuku untuk tidak diperbolehkan lagi bermain air di sungai. Penyakit gatal-gatalku belum juga sembuh saat itu, ibuku hanya memberikan minyak penghilang rasa gatal dan saat beberapa jam kakakku menyarankan untuk membawaku ke puskesmas terdekat, karena gatal-gatalku yang sudah mulai aneh dengan menimbulkan bintik-bintik bernanah. Aku bahkan heran kenapa gatal-gatal ini bisa terjadi begitu lama padahal saat sebelum kejadian ini aku sering bermain air di sungai dan merasa gatal tetapi tidak sampai separah saat kejadian ini.
Saat aku diantar ke puskesmas dokter yang memeriksaku berkata pada ibuku “ini sepertinya alergi pada sesuatu, kemungkinan pada makanan atau ia melakukan sesuatu yang menimbulkan efek alergi ini timbul” lalu ibuku pun menceritakan kronologi jejadiannya pada dokter itu. Dokter itu pun langsung memberiku obat untuk diminum dan obat salep untuk menghilangkan rasa gatalnya.
Hari-hari terus berlalu aku pun sempat tidak masuk sekolah beberapa hari, aku terus meminum obat itu dengan teratur dan juga menggunakan salepnya sesuai dengan perintah dokter. Entah kenapa setelah itu tidak lama kakakku tertular oleh penyakit gatal-gatalku, aku pun begitu tersiksa dengan penyakit ini di tubuhku semua jadi terasa gatal dan karena aku juga kakakku sampai tertular oleh penyakitku. Aku merasa begitu bersalah saat itu, karena saat itu penyakit gatalnya tidak kunjung sembuh juga ibuku diberi saran oleh tetangga untuk memberikan aku dan kakakku air mandi dengan air hangat rebusan dedaunan, aku tidak ingat saat itu daun apa yang digunakan.
Nah, setiap hari kami mencoba terus dengan mandi menggunakan air rebusan dedaunan itu, tapi tidak hanya itu kami juga terus berkonsultasi ke puskesmas dan selalu diberi obat dan salep untuk digunakan. Sebenarnya dokter pun menyarankan untuk ke rumah sakit dan menindak lanjuti penyakit ini, akan tetapi ibuku tidak memiliki biaya untuk memeriksakanku dan kakakku ke rumah sakit, tepatnya di rumah sakit di kota samarinda atau tenggarong.
Setelah hari demi hari ibuku yang terus rutin mengobatiku dan kakakku akhirnya penyakit itu sembuh perlahan, setelah kejadian itu aku tidak lagi diperbolehkan oleh ibuku bermain air di sungai karena penyakit alergiku. Sebenarnya di pikiranku ada sedikit rasa ingin bermain air bersama teman-teman lagi saat aku mulai sembuh tetapi, aku ingat bahwa kesalahanku membuat orang lain menjadi terkena dampaknya seperti kakakku yang tertular penyakitku dan juga telah menyusahkan ibuku selama aku sakit. Dan saat itu aku tidak lagi bermain air di sungai, meskipun teman-temanku mengajakku

saat terakhir

Diagnosa dokter membuat Silvi menjadi bersedih dan takut akan kematian sebab ia didiagnosa menderita sakit kanker otak stadium akhir dan umurnya tak akan lama lagi.
Silvi menerima cobaan dan kenyataan ini dengan lapang dada meski dalam hatinya bersedih, akan tetapi orangtua dan saudara-saudara Silvi selalu berusaha untuk membuatnya semangat dan tegar dalam melawan penyakit yang dideritanya.
Silvi mencoba bersemangat dalam menjalani hidupnya dan berusaha menjadi orang yang berguna bagi orang lain serta berusaha untuk tidak menyakiti orang lain di akhir sisa hidupnya. Dirinya berusaha untuk selalu kuat dalam menghadapi cobaan tersebut. Bahkan ia meminta maaf kepada orangtuanya apabila mempunyai salah sebelum ia pergi untuk selamanya.
“Yah, bu, Silvi meminta maaf apabila memiliki salah.” ucap Silvi sambil mencium tangan ibundanya. “Ya nak, ibu dan ayah sudah memaafkan tapi kamu harus yakin bahwa bisa sembuh dari penyakit ini.” ujar ibunda Silvi sambil menumpahkan tetesan air mata.
Orangtua Silvi tak menyangka apabila anaknya menerima cobaan seberat ini. Orangtua Silvi hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan anaknya dan hanya bisa berharap agar anaknya berumur panjang.
Silvi yang terbaring lemah di rumah sakit mengungkapkan permintaan kepada kedua orangtuanya dan permintaan tersebut diungkapkannya dengan kondisi sangat lemah serta dengan wajah yang sangat pucat.
“Yah, Silvi ingin berwisata ke jogja untuk terakhir kalinya.” ucap Silvi yang terbaring lemah di rumah sakit.
“Nanti kalau Silvi sembuh kita akan berwisata kesana nak.” jawab Ayah Silvi sambil mengusap rambut Silvi.
Orangtua Silvi memilih menolak permintaan anaknya sebab memikirkan keadaan anaknya yang masih terbaring lemah dan sulit untuk berjalan. Meskipun dalam hati orangtua Silvi sedikit kecewa sebab menolak permintaan anaknya tersebut. Orangtua Silvi merasa bahwa permintaan tersebut ialah permintaan terakhir dari anaknya.
Silvi merasa menyesal sebab permintaan sederhananya tidak bisa dikabulkan oleh orangtuanya, akan tetapi ia berusaha menerimanya.
Tak lama kemudian, teman satu sekolahannya datang untuk menjenguknya di rumah sakit. Teman-teman Silvi berusaha menghiburnya supaya Silvi bersemangat dalam menjalani hidup. Pada malam hari, teman-teman Silvi berpamitan pulang dan Silvi merasa kesepian sebab hanya ada orangtuanya yang menunggu dirinya.
Dirinya kemudian memejamkan mata untuk tidur sambil kedua tanganya memegang erat tangan orangtuanya seperti mau pergi untuk selamanya. Saat Silvi tidur, ibunya meneteskan air mata sebab tak ingin kehilangan anak yang begitu disayangi tetapi ayah Silvi berusaha menenangkan ibu Silvi.
“Aku tidak mau kehilangan anak kita untuk selamanya yah.” ujar ibunya Silvi sambil meneteskan air mata.
“Kita harus berusaha ikhlas bu apabila anak kita pergi untuk selamanya.” jawab ayahnya Silvi.
“Iya yah.” ujar Ibu Silvi.
Akhirnya orangtua Silvi mencoba ikhlas apabila anaknya pergi untuk selamanya dan mereka selalu menjaga anaknya disaat sakit di rumah sakit hingga pagi hari. Saat pagi hari, Silvi bangun dari tidurnya dan berpesan kepada orangtuanya.
“Jika Silvi pergi, ayah dan ibu harus ikhlas menerimanya ya.” ucap Silvi sambil memegang tangan orangtuanya
“Baik nak, ibu dan ayah sudah ikhlas kok.” jawab ibunya Silvi sambil mengusap rambut Silvi dan meneteskan air mata.
“Iya bu.” ucap Silvi sambil terbaring lemah.
Silvi kemudian mencium kening kedua orangtuanya seperti akan pergi jauh dan tak akan kembali.
Ketika siang hari, Silvi merasa sangat pusing hingga memegang kepalanya dan tiba-tiba memejamkan mata serta detak jantung berhenti. Orangtua Silvi kemudian berlari untuk memanggil dokter sebab panik akan anaknya yang semakin parah. Setelah diperiksa, dokter mengungkapkan bahwa Silvi telah memejamkan mata untuk selama-lamanya. Keadaan berubah menjadi haru.
“Silvi… bangun nak, jangan tinggalkan ibu disini.” ucap ibu Silvi sambil berlinang air mata saat melihat jenazah Silvi.
“Udah bu, kita harus ikhlas akan hal ini.” ujar Ayah Silvi sambil menenangkan Ibu Silvi.
Orangtua Silvi merasa kehilangan anak semata wayangnya tersebut dan membuat mereka tak henti-hentinya menumpahkan tetesan air mata akan tetapi orangtua Silvi berusaha ikhlas serta berusaha tabah akan hal ini agar anaknya tidur dengan tenang di alam sana.
“Selamat jalan nak, tenanglah di alam sana dan ayah hanya bisa mendoakanmu dari sini.” ucap Ayah Silvi sambil mencium kening jenazah Silvi untuk terakhir kalinya.
Penyesalan yang amat dalam berada di benak kedua orangtua Silvi sebab menolak permintaan terakhir Silvi sebelum memejamkan mata untuk selamanya. Mereka menginginkan waktu dapat diputar kembali agar bisa menuruti permintaan anaknya tersebut akan tetapi nasi sudah menjadi bubur dan Silvi kini hanyalah menjadi sebuah kenangan sebab namanya telah tertulis di batu nisan yang tertancap di tanah. Namun, kenangan Silvi semasa hidup akan terkenang abadi di dalam hati kedua orangtuanya dan teman-temannya.

air terjun

Banyak hal yang tak bisa kita sangka akan terjadi di masa depan. Hal atau kejadian yang jauh dari angan dan harapan, dan kini aku telah membuktikan betapa sang pencipta telah merencanakan yang terbaik untuk kita. Dulu aku pikir kejadian meninggalnya ibu adalah awal dari kehancuran masa depanku, karena setelah beberapa bulan ibu meninggal ayah menikah lagi dan meninggalkan aku dan menitipkanku dan kakakku di rumah nenek dan kakek di xxxxx. Saat itu kami berdua terancam putus sekolah, kalau saja kakakku wahyu tidak mencari beasiswa di SMK di kota kecil, kabupaten xxxxx.
Aku dan kakakku berselang 6 tahun, saat ia SMK kelas 10 aku kelas 5 SD. Kakakku sekolah sambil bekerja, ia membantu kakek menjadi buruh di sawah dan di kebun-kebun warga. Terkadang aku menangis saat ia pulang dalam keadaan lelah, saat ia sakit itu sangat menyakitkan bagiku. Dan sebuah kenyataan membuatku tambah sakit hati, yaitu kenyataan bahwa kakakku wahyu bukan anak kandung dari ayah dan ibu. Ia anak yatim piatu yang diadopsi ayah dan ibuku dari panti asuhan di Jakarta. Aku sangat terpukul saat itu, aku berlari melawati sawah-sawah, lalu berlari ke gunung desaku. Aku berhenti di air terjun yang sangat tinggi dan indah, menangis sejadi-jadinya sampai kudengar kak wahyu menyusulku dan menjelaskan semuanya.
“maafkan kakak dek…, kakak baru cerita sekarang. Tapi kamu jangan marah, kakak akan selalu ada untuk kamu. walau kakak bukan kakak kandung tiara, bukan berarti kita tidak bisa jadi kakak adik… kakak akan jadi kakak tiara selamanya dan nggak akan ninggalin tiara, okeh?” ia mengelus rambutku sambil memelukku.
Entah apa yang membuatku nyaman di pelukan kak wahyu dari dulu, pelukannya mirip dengan pelukan ibu. Pelukan tulus yang mampu meredam kemarahan dan mampu menghentikan waktu, membuat siapapun seperti terhipnotis untuk beberapa menit.
“maafkan tiara juga ya kak? Tiara seharusnya nggak boleh lari-lari sejauh ini, buat kak wahyu jadi capek. Tapi kak… tiara nggak kuat pulangnya, kita sudah jauh sekali dari rumah…” aku memasang wajah memelas.
“ya udah… kakak gendong sampai rumah yah?” aku langsung mengangguk cepat.
Sudah mulai magrib dan kak wahyu masih kuat menggendongku melewati jalan kecil sawah, ia terus bercerita saat aku masih balita dulu, itu membuatku sangat malu.
“tapi kak…, kenapa kakak sayang banget sama tiara? Padahal kan, kakak bukan kakak kandung tiara…” aku bicara tepat di telinganya.
“karena kakak nggak peduli tentang tiara dan kakak bukan adik dan kakak kandung, yang jelas! Kakak sayang banget sama tiara. Jadi… tiara jangan pernah sedih, karena kakak akan selalu ada untuk tiara…” aku tersenyum, dan mengeratkan pelukanku di leher kak wahyu.
Hari demi hari kami lalui bersama, kak wahyu dan aku semakin tambah umur dan semakin naik kelas. Sampai akhirnya kak wahyu kerja di jepang, menjadi perakit mobil di salah satu perusahaan di sana. Aku sangat sedih, kenapa aku harus ditinggal lagi, sekarang aku masih kelas 9 SMP. Walau ekonomi kami mulai stabil, tanpa kehadiran kak wahyu membuatku tak bisa bersemangat dalam melewati hari-hari. Entah kenapa aku jadi sangat tergantung terhadap kak wahyu, nenek juga pernah bilang padaku.
“jika suatu saat wahyu sudah menikah, dia akan fokus kepada keluarganya dan kamu harus bisa mandiri. Kamu nggak boleh terus-terusan tergantung padanya, jadilah seperti kakakmu yang gigih dan baik hati. Ia sangat menyayangimu, dan menyayangi kakek dan nenek. Kamu juga harus seperti dia yang sangat pandai dalam pelajaran dan dalam menyayangi keluarga…” Aku hanya daim merenungkan setiap kata-kata nenek. Benar juga sih, tapi rasanya aku tak ingin ditinggal kak wahyu, apa lagi setelah kak wahyu menikah.
Sekarang aku telah lulus SMA aku ingin jadi dokter, tapi aku berfikir ulang. Kalau saja aku jadi dokter pasti akan membuat kak wahyu lebih lama di jepang. Akhirnya aku mengambil kuliah di jurusan kebidanan di Jakarta, tepatnya di UI. Berkat nilaiku, aku jadi bisa kuliah dengan setengah harga. Lagi-lagi kak wahyu adalah inspiratorku.
“kak wahyu, aku senang sekali bisa diterima di UI. Tapi aku agak berat meninggalkan nenek dan kakek di xxxxx…, seandainya kakak pulang pasti mereka ada yang menemani…” Aku curhat dengan kak wahyu lewat telepon.
“hem…, insha allah 4 bulan lagi dek, kalau kakak dah gajian…, sama nunggu modal kumpul, biar kakak sambil usaha di sana. Sabar yah?” suara lembutnya masih sama.
“okeh kak? Do’ain yah biar aku kuliahnya berhasil dan bisa jadi bidan…!” ucapku riang, disambut tawa kecil darinya.
“iya adikku sayang! Yang bener makannya kuliahnya, jangan ngawur… okeh?”
“okeh kakakku sayang…, pokoknya kalau besok kakak pulang, kakak harus jemput aku dulu biar aku ikut pulang. Yah?”
“iya… iyah…, ya udah kakak mau kerja lagi. Wassalamu’allikum!”
“wa’allaikumsalam kak!”
Ya allah perasaan apa ini? kenapa akhir-akhir ini aku merindukan kak wahyu, bukan selayaknya adik kakak, tapi seperti ada getaran lain yang membuatku candu akan suara lembutnya. Apakah benar, aku mencintai kak wahyu sebagai lelaki? Bukan sebagai kakak? Aku bingung, aku selalu mencoba cari jawaban namun hasilnya nihil.
4 bulan berlalu, kak wahyu menjemputku untuk pulang bersama, kebetulan aku juga sedang libur beberapa minggu. Aku juga izin dengan bos café tempat aku bekerja partime untuk libur beberapa minggu. Saat kami sampai rumah, kakek dan nenek sangat senang menyambut kami, nenek langsung heboh membeli berbagai macam makanan untuk kami. Dan yang paling menyenangkan adalah cemilan lanting kesukaanku. Dan kebiasaan juga, kalau aku sedang ngemil, pasti kak wahyu mengataiku.
“nanti gemuk loh!” aku mendengus kesal mendengarnya.
“biarin, kan kalau gemuk artinya subur… wleeee!” balasku sambil menjulurkan lidah.
Ia hanya tersenyum sambil memakan pecel buatan nenek, ia memang sangat hobi makan pecel apa lagi buatan nenek. Pecel buatan nenek adalah yang paling popular di desaku, makannya nenek dan kakek jadi ada penghasilan sampingan, sehingga mereka tak terlalu kesulitan soal makan.
“pecel buatan nenek nggak berubah, masih kaya dulu. Paling top deh” puji kak wahyu mengacungkan jempol ke arah nenek.
Membuat nenek tersipu malu dipuji seperti itu oleh kak wahyu, aku hanya tertawa dengan kakek.
“ehem… bagaimana rencanamu selanjutnya wahyu?” tanya kakek diawali deheman.
Yang ditanya sedikit berfikir, lalu tersenyum khasnya.
“wahyu mau usaha bengkel di sini…, awalnya sih aku masih mau memperpanjang kontrak di jepang. Tapi…, aku lebih nyaman di Negara sendiri di dekat kakek dan nenek. Lagi pula, tiara kan sudah kuliah… kakek dan nenek nggak ada yang menemani…” kak wahyu menoleh ke arahku sebentar.
Kakek dan nenek terlihat sangat bahagia, aku ikut tersenyum lebar melihatnya.
“Alhamdulillah kalau begitu…, kakek senang mendengarnya…” kakek tersenyum lagi, menampakan keriput di wajah tuanya.
Nenek pun ikut tersenyum, aku jadi teringat ibu. Ibu mirip sekali dengan nenek, apa lagi senyum mereka yang terlihat sangat tulus. Andai ayah dan ibu ada di tengah-tengah kebahagiaan ini, aku pasti sangat senang.
“lalu masalah wanita? Apakah sudah ada yang membuatmu yakin wahyu?” pertanyaan nenek membuat kak wahyu seperti agak grogi.
Semuanya penasaran, termasuk aku.
“hem… masalah itu… belakangan aja nek. Aku belum siap untuk membina keluarga. Aku masih ingin fokus buat nyekolahin tiara…, kalau dia sudah memiliki gelar sarjana dan bekerja, aku baru akan memikirkan hal itu…” ia menoleh ke arahku lagi, lalu menatap kakek nenek dengan serius.
Aku jadi tak enak dengan kak wahyu, ia harus menunda percintaannya hanya karena untuk menyekolahkan aku. ia sudah cukup berjuang selama ini untukku, dan kini ia juga harus mengorbankan perasaannya untuk fokus kepada kuliahku. Jawaban kak wahyu, membuat keadaan hening sejenak. Aku yang tak bisa membendung kegelisahanku, lalu pergi dari pembicaraan itu. ke luar mencari udara segar pedesaan. Melewati sawah-sawah, aku juga bertemu para tetangga dan bersalaman. Juga para orang-orang yang sedang di sawah. Mereka menyambutku
“baru pulang ya tiara?”
“iya bu! Tadi baru aja… 3 jam yang lalu. Ini pengen jalan-jalan dulu…, monggo bu! Pak!”
“monggo… duk!”
“matur nuwun pak! Bu! Monggo!”
Mereka mengangguk, mempersilahkan aku berjalan lagi. Lagi-lagi kakiku membawaku ke tempat di mana aku merasa nyaman di sana AIR TERJUN, selama lulus sma aku jadi jarang berkunjung ke sini, kangen rasanya. Hanya ada suara gercikan air dan tiupan angin dan suara alam di sini. Aku terbawa suasana, memejamkan mata agar mendapatkan kesunyian yang menenangkan.
“seger yah? Suasananya nggak berubah dari 5 tahun yang lalu…” Itu suara kak wahyu, lagi-lagi ia menyusul.
Pasti ia mengetahui perasaanku yang sedang gundah gulana, setiap aku sedang seperti ini, hanya dialah yang pengertian kepadaku.
“hem…, yah… begitulah. Masih sama, menenangkan dan segar…” sahutku membuka mata tanpa menoleh ke arahnya.
“kamu kenapa?” tanyanya membuatku menoleh, dan mendapatinya sedang menatapku sendu.
“aku hanya merasa…, menjadi beban bagi hidup kakak. Dari kecil sampai sekarang, aku adalah penghalang kebahagiaan kak wahyu…, kira-kira mau sampai kapan aku sepeti ini yah, kak?” jawabku dengan pertanyaan balik, sambil mengalihkan pandangan kepada air terjun di depan kami.
“siapa bilang seperti itu? kakak seneng kok, melakukan semua hal untuk kamu. Kamu bukan penghalang kebahagiaan kakak, justru kamu adalah sumber kebahagiaan kakak. Tanpa kamu… entahlah apakah kakak masih hidup atau tidak. Karena hidup kakak hanya untuk membuatmu lebih baik dari kakak, pendidikan apa lagi. Kamu harus lebih tinggi dari kakak…” ia masih menatapku, aku tau dari sudut mataku ia sungguh-sungguh dalam berucap.
“tapi bukan berarti kakak harus memfokuskan semuanya padaku, kakak punya masa depan sendiri dan kakak juga punya perasaan untuk lawan jenis. Jangan karena pendidikanku, kakak jadi terobsesi dan menyembunyikan cita-cita dan keinginan kakak…, aku juga ingin melihat kakak bahagia…” ucapku mulai emosi dengan keputusan kak wahyu yang menurutku terlalu terobsesi kepada pendidikanku.
“tapi kebahagiaan kakak adalah kamu tiara! Kakak tidak pernah memiliki perasaan kepada lawan jenis yang lebih. Karena kamu adalah yang membuat kakak seperti ini…” ucapan itu mulai kucerna, dan membuatku terkejut setengah mati.
“apa maksud kakak? Lalu bagaimana dengan masa depan kakak sendiri? Kita tidak selamanya akan bersama, suatu saat kita akan berpisah untuk masa depan kita masing-masing, kan?” aku mendekatinya dengan air mata yang tak bisa ditahan.
“tidak tiara… kakak tak akan berpisah denganmu. Kita akan bersama selamanya, karena kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hati kakak dan kakak tidak mau melepaskanmu!” balasnya tegas.
Aku membelalakan mata, mendengar semua ini. apa maksud kak wahyu?
“apa maksud kak wahyu? Jadi… selama ini kakak wahyu menyayangiku bukan karena aku adik kak wahyu?” tanyaku mulai memelankan suara.
“yah…, kakak sadar itu gila. Tapi itulah kenyataan, bahwa kakak mencintaimu bukan sebagai adik kakak. Kakak mencintaimu sebagai wanita idaman…, sejak kecil kakak tak ingin jauh darimu. Kakak tak salah kan? Kakak tak dosa kan? Kita tak ada ikatan darah, walau status kita kakak adik! Tak peduli kata orang nantinya…” Kak wahyu menatapku dalam, membuatku cepat mengerti setiap kosa kata yang ia keluarkan.
Kakiku tak mampu menopang berat badanku, membuatku berlutut di atas bebatuan kecil. Di hadapannya, aku menangis.
“kenapa kakak senekat ini? kenapa kakak juga memiliki perasaan yang sama denganku kak? Lalu bagaimana perasaan nenek dan kakek jika semua ini dilanjutkan?” ucapku lemah.
Ia berjongkok menatap mataku dalam.
“kita jujur, mereka pasti akan mengerti, asalkan kita menjelaskannya dengan baik-baik… tak ada yang perlu ditakuti selama semua ini bukan kesalahan. Kamu harus yakin… kakek nenek akan mengerti…” ia mengusap air mata di pipi kananku.
“lalu bagaiman pandangan orang?” ucapku menghindari tatapan matanya.
“aku akan jelaskan semua kenyataan kepada semua orang, bahwa kita bukan kakak adik kandung. Jadi… semua itu tak bisa menghalangi hubungan kita…”
Yah…, kak wahyu telah yakin. Tapi aku sendiri yang ragu dengan semua hubungan ini.
Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi keadaan menjadi canggung, setelah mengetahui perasaan terdalam kita masing-masing. Aku berjalan di depan dan kak wahyu di belakang, ia masih sama dari dulu selalu berada di belakangku untuk menjagaku. Aku jadi mulai berfikir, di mana lagi aku bisa mencari lelaki seperti kak wahyu?
Makan malam tiba. Di tengah-tengah obrolan kami, kakek mengatakan
“wahyu…, itu putrinya pak kiai maulana, si nduk aisyah menanyakan kabarmu. Dia sepertinya menyukaimu…, selama kamu di jepang. Ia sering ke sini dan mengantarkan makanan untuk kakek dan nenek sambil menanyakanmu…, temui dia sesekali. Hitung-hitung pendekatan…, dia anak yang baik dan tentunya solehah…” nenek tersenyum mendengar hal itu.
Sementara aku seperti setengah sedih dan bahagia, aku memaksakan bibirku tersenyum. Kak wahyu melirikku dengan tatapan sedih, ia meletakan sendok makannya lalu menatap kakek nenek bergantian.
“em… kek! Nek! Mungkin ini saatnya aku jujur…” ekspresi bahagia kakek nenek berubah menjadi penasaran.
“jujur tentang hal apa wahyu?” nenek menatapku sejenak, mungkin karena dari tadi aku diam dan menunduk murung.
“tentang kebenaran dan perasaanku…, kakek dan nenek tau kan? Aku dan tiara bukan sedarah?” kakek seperti gelisan menunggu kalimat selanjutnya.
“iyah…” kakek dan nenek bergantian mengucapkannya.
Aku melirik kak wahyu yang sedang fokus menatap nenek dan kakek.
“jujur… aku… mencintai tiara bukan sebagai adikku, tapi sebagai wanita pendamping hidupku… kek! nek!…” kata-kata kak wahyu terhenti saat kakek menggebrak meja.
Brak…!!! Nenek menatap kak wahyu dengan terkejut, sementara aku menunduk takut dan cemas. Kakek sangat marah kali ini, baru pertama kali aku melihatnya seperti ini, aku tak kauasa menahan air mata.
“hentikan wahyu!!! Kamu sudah tidak waras apa?!!!” bentak kakek menatap kak wahyu tajam.
Kak wahyu mendekati kakek dengan menunduk, ia lalu berlutut di hadapannya yang masih duduk dengan kemarahan.
“aku mengatakan ini menggunakan akal sehat kek! Ini bukan sebuah dosa kan? Aku dan tiara bukan sedarah, jadi… tak ada hukum yang melarang kita bersatu kek…” ucapnya pelang, sambil menangis.
Nenek menangis, melihat semua itu. aku mulai terisak. Senekat itu kak wahyu dengan ucapannya.
“tapi sejak lahir… kalian adalah kakak beradik…, jadi mana mungkin bisa bersatu wahyu!” kakek geram dan mulai meninju meja makan lagi.
“kek kumohon…, itu hanya sebuah status dan kenyataannya kami bisa bersatu. Kami punya perasaan dan bukan salah kami merasakan hal ini kek…” kak wahyu masih berlutut di depan kakek.
Sementara kakek sendiri menghela nafas panjang, ia mulai mencoba mengendalikan diri. Nenek menatapku tak percaya, aku masih menunduk tak berani mengangkat kepala.
Kakek, melepas pegangan kak wahyu dari kakinya lalu pergi begitu sajan, menahan marah dan sesak di dada.
“maaf nek, aku… tak ingin merasakan ini. Tapi… itulah fakta yang sekarang ada di hatiku… hiks… hiks… hiks. Maaf telah mengecewakan nenek, tapi aku akan berusaha menghilangkannya… nek! aku janji. Karena kutau ini salah… salah besar yang seharusnya mendapat sanksi hukuman…”
Kak wahyu menatapku tak menyangka,
“nenek tak bisa berbuat banyak tiara, kamu harus berusaha dengan itu. kamu juga wahyu…, nenek tau kalian bukan adik kakak kandung, namun dari kecil… kalian dibesarkan bersama yaitu untuk menjadi seorang yang memiliki ikatan persaudaraan yang baik. Jika rasa itu datang, memang bukan salah kalian, tetapi wajib bagi kalian untuk menghapusnya. Kalian mengerti?” tanya nenek serius, menahan tangis.
Aku mengangguk, juga kak wahyu yang akhirnya meninggalkan meja makan dengan kesedihan mendalam. Malam itu, aku menghampiri kakek dan kak wahyu yang sedang berbincang serius di belakang rumah.
“kakek…! kak wahyu…! Maaf atas semua kejadian ini…” ucapku menyesal.
“kakek tidak marah, kalian tidak salah. Wahyu sudah menjelaskan tadi, dan ia bersedia untuk menghilangkan perasaan itu…” kak wahyu mengangguk setuju.
Sejak saat itu juga, aku dan kak wahyu jadi tak akrab kami tak pernah menegur sapa dan berbincang kecuali hal penting. Sampai-sampai aku berangkat sendiri ke jogja untuk menimba ilmu. Aku tenang sih, kami jadi mulai bisa mengendalikan rasa masing-memasing dan mulai bisa melupakan rasa itu.
5 Tahun berlalu, dan aku bekerja di pukesmas desaku. Kak wahyu kini sudah menikah dengan mbak aisyah sejak 8 bulan yang lalu. Aku ikut bahagia atas hal itu, walau ada rasa mengganjal dalam diriku yang membuatku harus berfikir panjang, dengan adanya calon anak kak wahyu, aku bisa ikut bahagia atas mereka. Kak aisyah sudah hamil 3 bulan, ia sering kontrol denganku. Aku senang memiliki kakak ipar sepertinya, yang baik dan solehah. Ia guru ngaji di desaku, makannya ia sosok yang paling cocok untuk pengusaha bengkel seperti kak wahyu. Masalah aku…, aku belum menemukan pemilik hati ini. tapi keyakinanku semakin kuat, saat aku bertemu lagi dengan kakak kelasku di SD, seorang dokter yang sekarang sedang dipindah tugaskan di kecamatan, ia juga sering berada di puskesmas. Aku memang mengaguminya dulu, ia adalah anak yang pintar dan dari keluarga kaya. Sikap dinginnya membuat teman-temanku selalu mengejar-ngejarnya kecuali aku, aku dulu menyukainya dalam diam dan hanya diam menatapnya dari kejauhan.
“setelah pasien ini, kamu bisa temani saya ke rumah pak jahid?” tanyanya sambil mencari sesuatu di buku tebalnya.
Laca mata tebalnya, membuatku tak bisa memastikan bagaimana sifatnya.
“bisa pak…, kebetulan jam kerja saya hari ini memang sampai jam 11…” Aku merapikan tasku.
Ia memberikan resep kepada ibu-ibu di depannya, dengan senyum manisnya. Senyum yang membuat siapa saja yang melihat terpikat, menghiasi wajah tampan jeniusnya.
Kami menuju rumah pak jahid dengan menggunakan sepeda, aku menggunakan sepedaku dan dia juga punyanya sendiri.
“kamu apa kabar tiara?” ia membuka percakapan, di atas sepeda.
“Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan anda?” tanyaku gugup.
“baik juga. Nggak usah pake anda-andaan…, aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Setelah kamu pindah dari Jakarta…, aku jadi lega… bisa mengungkapkan isi hatiku kali ini…”
“maksudnya?”
“penantian yang panjang, aku menyukaimu dari dulu… dan hatiku selama ini nggak berubah…”
“pak dokter bercandanya nggak lucu…!” Aku mengencangkan laju sepedaku.
Ia mengejarku, “aku serius. Maukah kamu menjalin hubngan yang lebih serius lagi? Aku tau rumahmu dan bolehkah aku besok ke rumahmu? Melamarmu…”
Aku menghentikan laju sepedaku mendadak, jantungku berdetak kencang. Ia juga ikut berhenti dan menarik sepedaku dan aku ke air terjun favoritku.
“aku serius…, aku cinta kamu! Aku menyukaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu…, jangan buat penantianku sia-sia… kumohon.” Aku menatapnya penuh bahagia dan tetesan haru.
“terima kasih… kamu mau mencintaiku! Dan aku juga mencintaimu…” Jawabku, saat dia menatap air terjun indah di hadapannya.
“jadi…, kamu mau menikah denganku?” aku mengangguk cepat, ia menatapku tajam.
“terima kasih…!” Hampir saja ia memeluku, kalau saja aku tak menahannya.
“oh… maaf, belum waktunya yah?” ia tersenyum malu menatapku.
Aku juga ingin tersenyum bahagia dengan tidak melukai, memalukan, dan membebani siapapun, termasuk kakek dan nenek. Bagai air terjun yang indah, aku ingin jalan cerita hidupku ke depan bisa seindah aliran air terjun yang penuh semangat.
SELESAI

kenangan yang terlupakan

Aku memandang papan tulis yang kosong di depan kelas. Sudah 5 menit semenjak bel pulang berbunyi. Hanya aku sendiri yang berada di kelas sekarang. Perasaan ini selalu muncul setiap bel pulang berbunyi. Rasanya seperti mimpi, tapi mimpi ini terlihat sangat nyata. Kata ayah itu merupakan sebuah kenangan yang terlupakan, saat kutanya kenapa terlupakan, ayah hanya diam membisu.
Setelah berhasil menenangkan diri, aku cepat-cepat ke luar dari kelas ini. Pak Udin sudah menunggu di depan mobil, siap mengantarku pulang. Dia selalu menyambutku dengan senyuman, senyuman yang tidak akan pernah aku balas. Lebih baik aku pulang berjalan kaki dibanding harus satu mobil dengan orang lain. Orang-orang selalu mengatakan kalau aku ini kasar, egois dan tidak sopan. Tapi aku tidak peduli, aku tidak pernah bertanya apa yang mereka pikirkan tentang diriku.
“Neng Dara, hari ini mau langsung pulang?”
Aku menatap mata Pak Udin melalui kaca spion, lalu menaikkan salah satu alisku. Dia sudah mengerti maksudku. Artinya aku bertanya padanya kenapa aku harus membuang-buang waktu untuk ke tempat lain. Kemudian dia berhenti bicara dan langsung mengendarai mobil ayahku ini ke rumah. Suasana di mobil sangat sunyi. Aku mematikan radio karena tidak ingin mendengar hal-hal tidak jelas yang disampaikan penyiar radio.
Dari luar pagar rumah aku dapat melihat sosok mama di taman. Dengan terusan berwarna biru laut bermotif bunga, dia duduk sambil menikmati secangkir kopi di kursi taman kami. Taman merupakan tempat favorit mama, dan taman juga merupakan tempat yang paling kubenci. Setelah keluar dari mobil, aku hanya melirik mama yang memerhatikanku, lalu aku masuk ke dalam rumah. Anak durhaka merupakan sebutanku menurut Tante Irma, adik dari mamaku. Kalau dipikir-pikir, tante Irma yang pantas aku panggil “mama” dibanding mamaku sendiri sekarang. Tante Irma lebih peduli padaku. Mama? Semenjak aku memasuki SMP tiap hari dia hanya menghabiskan waktu di dapur dan di taman. Entah apa yang dilakukannya, aku sudah muak. Ayah selalu sibuk berkerja, aku hanya melihatnya sekali dalam seminggu, yaitu hari minggu. Tidak, orangtuaku tidak bercerai, hanya saja aneh.
Sepulang sekolah aku selalu membuat PR terlebih dahulu, supaya nanti aku bisa bersantai. PR hari ini lumayan sedikit. Hanya Bahasa Inggris dan Matematika. Saat membuka buku Bahasa Inggris, di halaman paling depan ada sebuah memo yang bertuliskan: “PR Bahasa Inggris, mewawancarai orangtuamu lalu membuatnya sebagai cerita pendek.”
“Kenapa Miss Dewi harus memberikan PR yang tidak jelas? Guru aneh,” gumamku dalam hati.
Karena ayah masih sibuk berkerja dan tidak mungkin aku membuang-buang energi untuk ke kantornya, aku hanya punya satu pilihan; mewawancari mama.
Dengan langkah yang berat aku menuruni anak tangga menuju ke taman. Selembar kertas berisi beberapa pertanyaan yang sudah aku susun di sekolah tadi ada di tanganku. Dari ruang tamu aku sudah bisa melihat mama, duduk dengan tatapan kosongnya seperti biasa. Sepertinya dia sadar kalau aku mendekatinya. Aku membuka mulutku, tapi kata-kata ini seolah-olah tersendat di tenggorakanku. Kuambil nafas panjang lalu mulai ‘berbicara’ padanya.
“Ma, kenapa mama memilih untuk tidak berkerja seperti ayah?”
Mama hanya menatapku lekat-lekat, setelah itu berpaling dariku.
“Ma.. jawab. Kenapa sih setiap kali aku berbicara sama mama, mama selalu diam?”
Mama berdiri, lalu berjalan dengan pelan ke dalam rumah. Tiba-tiba, aku merasa ingatan yang terlupakan itu kembali lagi. Aku hanya bisa menahan sakitnya. Bukan maksudku sakit seperti sakit kepala biasa, tapi sakit seperti sesak di dada.
“MAMA!” teriakku kencang, membuat mama berhenti melangkah.
“Kenapa sih mama selalu berpaling dariku? Aku ingat betul kata mama saat aku masih kecil, mama bilang aku harus selalu menatap mata orang saat berbicara, jangan berpaling karena itu tidak sopan. Kenapa mama berubah semenjak aku masuk SMP?”
Mama berbalik, dengan tangannya yang memegang cangkir erat-erat, dia menatapku sekali lagi.
“Kamu sendiri yang menginginkan semua ini terjadi. Kamu harus ingat.”
“Maksudnya apa? Kenapa bukan mama yang mengingatkanku?” tanyaku lagi, dengan nada kencang.
Mama berpaling lagi, karena kesal, aku langsung kabur dari rumah. Pak Udin dan penjaga tamanku berlarian ikut mengejarku. Pak Udin kembali, mengambil mobil untuk mengejarku. Sebelum mobil ayah yang dikendarai oleh Pak Udin mendekatiku, aku langsung menuju halte dan menaiki angkutan umum. Walaupun seramai ini, aku tidak malu untuk menangis di depan umum. Karena aku tidak peduli, bahkan aku tidak tahu apa yang harus aku pedulikan sekarang ini. Orang-orang yang bertanya kenapa pada diriku aku diamkan. Faktanya mereka tidak akan bisa membantuku.
Aku sudah sampai di tujuanku. Tujuanku adalah SD-ku dulu. Tempat di mana aku masih bisa tertawa, di mana aku masih bisa merasakan kehangatan dari kasih sayang orangtuaku dan di mana aku masih bisa bersama Dia. Dia yang tidak aku tahu namanya, Dia yang tidak aku tahu sosoknya, Dia yang sudah hilang tapi masih bisa aku rasakan kehadirannya. Dia menghilang dari kehidupanku semenjak aku memasuki SMP, aku tidak dapat mengingatnya. Bila Dia merupakan teman masa kecilku, aku pasti memiliki kenangan bersamanya, tapi sudah seluruh rumah aku cari dan aku masih tetap tidak menemukan sebuah kenangan bersamanya. Aku tidak pernah mempertanyakan siapa Dia, karena aku tidak yakin ada yang bisa menjawabnya.
“Neng Dara, ayo pulang.”
Suara lembut yang khas dari Pak Udin terdengar dari belakangku. Aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya, aku hanya ingin ke kamar dan menangis sekeras-kerasnya sekarang.
Saat aku sampai di rumah, mama sudah tidak terlihat lagi. Tidak biasanya mama meninggalkan rumah tanpa ayah. Mama hanya keluar rumah hari Minggu dengan ayah ke suatu tempat. Aku tidak pernah diajak ke sana. Ayah bilang aku belum boleh ke sana. Dia berjanji akan membawaku ke sana di saat yang tepat. Sekarang aku sudah berumur 16 tahun dan aku belum diajaknya ke sana, jadi aku tidak terlalu memikirkan hal itu sekarang. Rasa ingin tahuku sudah lama hilang.
Rasa sedih ini sudah mulai pudar selagi aku mengarang PR Bahasa Inggrisku karena mama tidak bisa aku wawancarai. Aku baru ingat kalau mesin cetak milik ayah rusak, dan aku harus mencetak tugasku di tukang cetak. Karena flashdiskku tertinggal di sekolah, aku akan meminjam flashdisk ayah. Ayah menyimpan flashdisknya di kamarnya. Sudah sangat lama semenjak terakhir kali aku memasuki kamarnya. Wangi kamarnya masih sama seperti saat dulu, posisi barangnya pun juga masih sama. Aku membongkar laci-laci di kamar itu dan mencari flashdisk ayah. Saat aku menemukannya, ada benda lain yang menarik perhatianku. Sebuah kertas undangan yang pernah aku buat saat masih SD. Kertas undangan ini digunakan untuk mengundang orangtua ke acara perpisahan, hanya dibuat saat kelas 6 SD. Aku kira itu punyaku, tapi saat aku melihat nama penulisnya, hatiku seolah-olah dipukul dengan kuat, air mata membanjiri wajahku dan nafas yang kukeluarkan terasa berat.
“Nama penulis: RIKA”
Aku ingat sekarang, semuanya terlintas di kepalaku seperti sebuah film. Aku ingat semuanya. Aku ingat akan kenangan yang terlupakan dan seketika semua pertanyaanku terjawab. Aku tahu siapa diriku sekarang, seorang adik. Rika merupakan nama kakak perempuanku. Dia yang selalu mengajakku bermain saat mama dan ayah sibuk berkerja, dia yang membantuku menyelesaikan PR, dia adalah seorang kakak yang sangat baik.
Aku juga ingat detik-detik kematiannya. Dia merupkan korban tabrak-lari 4 tahun yang lalu. Saat itu Kak Rika sedang keluar untuk membelikan bahan-bahan prakaryaku karena mama dan ayah masih sibuk di kantor. Dan sejam kemudian, mama buru-buru mengajakku ke rumah sakit, ternyata Kak Rika sudah di sana dengan kondisi yang kritis. Tapi ketika aku dan mama tiba di rumah sakit, Kak Rika sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku masih berumur 12 tahun saat itu, hal seperti ini sangat sulit untuk kuterima. Karena sebelumnya aku tidak pernah kehilangan orang yang aku sayang. Karena itu, aku menyalahkan mama dan ayah yang selalu sibuk berkerja dan tidak pernah menyempatkan diri untuk mengurusku. Mama dan ayah selalu mengandalkan Kak Rika.
“Gara-gara kalian Kak Rika meninggal, coba saja Kak Rika tidak keluar untuk membelikanku prakarya, pasti Kak Rika tidak akan meninggal! Coba saja mama dan ayah selalu diam di rumah!” kataku saat itu.
Semenjak aku mengatakan hal itu, mama berubah. Tapi ingatanku hilang karena esoknya aku terjatuh dari tangga dan kepalaku terhantam dengan keras. Anehnya, hanya ingatanku mengenai Kak Rika yang tidak pulih. Mungkin karena mama dan ayah tidak menginginkanku untuk mengingatnya, makanya mereka menghilangkan semua kenangan-kenanganku dengan Kak Rika.
Aku bisa menerimanya sekarang. Semua hal yang tampaknya berat di hari itu sekarang bisa kulalui. Sekarang aku perlu mencari mama dan meminta maaf padanya, ini bukan salahnya. Aku tahu di mana aku harus mencarinya. Kutemui Pak Udin dan memintanya untuk mengantarku ke tempat di mana Kak Rika dimakamkan. Baru kali ini, aku memberinya senyuman. Pak Udin kaget, dan langsung mengantarkanku ke tujuanku.
Dugaanku benar, mama ada di sana. Duduk sambil menangis. Dari belakang aku peluk dirinya dan mengatakan, “Ma, ini bukan salah mama. Maafkan aku ya, Ma.”
Mama membalikkan badannya. Dia memelukku dengan erat untuk yang pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir. Sepertinya mama menjadi seperti ini karena dia menyalahkan dirinya akibat ucapanku saat Kak Rika meninggal. Aku sudah mengiklhaskan kepergiannya sekarang, Kak Rika pasti tenang di sana. Setelah itu, aku dan mama pulang ke rumah bersama dan bercerita panjang lebar selama di perjalanan. Senang bisa melihat mama tersenyum kembali.

seberkas cahaya dalam gelap

Hari ini ulang tahunku yang ke sebelas. Tak seperti ulang tahunku yang telah lalu, kali ini aku merasa senang sekali karena pagi ini dibangunkan Ibu. Sehabis mandi, lekas kupakai seragam sekolah, memakai ransel yang sudah kusiapkan semalam, memakai kaos kaki, lalu mengambil sepatu untuk kupakai di luar.
Aku turun ke meja makan. Namun tak seorangpun yang kulihat, hanya kudengar dengungan seorang wanita dari arah dapur. Pagi ini aku tak nafsu makan. Tapi karena suasana hatiku sedang baik, maka langsung kumakan semangkuk bubur di atas meja. Melahapnya dengan rakus, walaupun rasanya agak aneh, tapi tetap terasa enak karena aku sedang senang.
“Rizky! Ayo berangkat!” Suara pamanku terdengar dari luar. Dengan cepat kutuntaskan acara makanku. Aku berlari ke luar, memakai sepatu dengan tergesa.
“jangan berlari seperti itu. Nanti perutmu sakit,” lanjutnya. Aku tak menggubrisnya.
“paman, hari ini aku dibangunkan ibu,” Kataku pada paman antusias. Namun paman hanya memandangku dengan aneh. Aku jadi heran.
“sudahlah cepat naik!” Teriak paman mengagetkanku. Mau tak mau aku segera memboncengnya.
Sepeda melaju menuju sekolahku yang bising oleh suara teman-teman.
“disini saja,” Aku tersenyum, mencium tangan paman, lalu berlari menuju temanku yang berjalan di depan.
“hei, hari ini aku ulang tahun lho!” Tukasku dengan ceria pada Eko. Temanku yang agak tambun itu menatapku dengan sebal,
“lalu apa urusannya denganku, sana pergi! dasar aneh!”
Aku benar-benar pergi setelah itu, berlari menuju kelasku yang berisik. Sangat kontras dengan aku yang terpasung hening. Hari ini hari ulang tahunku tapi tak ada yang mau menyelamati atau sekedar tersenyum padaku. Yah, aku sudah kebal dengan itu semua. Sebenarnya aku juga tak peduli apakah mereka tahu ulang tahunku atau tidak. Tak ada ruginya untukku. Yang penting hari ini aku senang. Dan aku harus memanfaatkannya dengan baik.
Kelas dimulai dengan membosankan, pelajaran bahasa kuhabiskan dengan memandang sekeliling. Dari tempat duduk paling belakang, aku melihat guru yang membosankan, papan tulis yang membosankan, kelas yang membosankan, dan teman-teman yang membosankan. Padahal hari ini ulang tahunku. Kenapa semua membosankan? Ah … Lebih baik tidur saja!
Aku pulang dari tempat yang membosankan itu dengan berlari sekencang mungkin. Aku ingat hari ini paman pasti lembur, jadi aku tak langsung pulang ke rumah karena disana pasti sepi. Aku berbelok ke sebuah tempat, di samping jalan banyak sekali pohon bambu yang melengkung. Aku berjalan penuh semangat menuju tempat yang menjadi favoritku belakangan ini.
“Ibu! Hari ini ulang tahunku lho! Aku senang Ibu membangunkanku tadi pagi, senang sekali. Walaupun siangnya aku merasa bosan, tapi hari ini aku tetap senang karena aku bisa melihat Ibu lagi.”
Kupeluk gundukan tanah yang lebat rumputnya. Rebahan disini sungguh menyenangkan. Jikapun setelah ini Ibu marah-marah padaku karena bajuku kotor, aku akan beralasan bahwa bajuku kotor karena memeluk Ibu, pasti dia tak akan marah setelahnya.
“Bu, aku baik-baik saja bersama paman, selama ini aku makan dengan baik. Bubur yang dibuatkan Ibu pagi tadi enak sekali. Aku makan dengan lahap. aku jadi tidak kangen lagi dengan Ibu, karena Ibu selalu membangunkanku setiap pagi. Aku janji akan selalu kesini setiap hari. Aku sayang Ibu.” kataku dengan semangat. Sambil kucabuti rumput di atas gundukan tanahnya, aku bernyanyi dengan senang.
Di sampingku kulihat Ibuku yang merebahkan tubuhnya, tersenyum padaku walaupun wajahnya agak pucat. Aku membalasnya dengan tertawa.
“Bu, Hari ini aku senang sekali. Terimakasih sudah menjagaku, Ibu.”